MIRACLE
Pada Hari Minggu, 17 September 2017 di acara Basic Training
of Public Health (BTOPH) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) telah mengundang
seorang pemateri yaitu Bapak Budi Aji.
Dalam kesempatan hari itu, Bapak Budi Aji menjelaskan
beberapa hal yang sangat penting. Diantaranya yakni materi MIRACLE, kompetensi
yang dibutuhkan oleh lulusan sarjana kesehatan masyarakat, visi dan misi
kesehatan masyarakat, hambatan-hambatan yang biasa dirasakan oleh mahasiswa
kesehatan masyarakat maupun mahasiswa jurusan lain, serta seminar motivasi bagi
mahasiswa baru program studi kesehatan masyarakat UNSOED.
Materi pertama yakni MIRACLE. Miracle Merupakan singkatan
dari Manager, Innovator, Researcher, Apprenticer, Communitarian, Leader, dan
Educator. Hal tersebut merupakan visi sarjana kesehatan masyarakat.
Manager maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat mampu mengatur sekelompok masyarakat untuk membiaskan hidup sehat,
berkecukupan gizi, serta mampu membedakan mana hal yang baik dan buruk dalam
konteks kesehatan.
Innovator maksudnya adalah maksudnya adalah lulusan
sarjana kesehatan masyarakat mampu menjadi seseorang yang dapat memotivasi
orang untuk diarahkan ke jalan atau pemikiran yang benar. Misalnya, orang-orang
pedesaan cenderung belum membiasakan diri untuk cuci tangan sebelum makan.
Akibatnya, angka orang yang mengalami penyakit diare sangat tinggi. Kita harus
mampu memberi contoh yang baik, yakni dengan mencuci tangan menggunakan sabun
hingga ke sela-sela jari, telapak tangan, dan pergelangan tangan.
Reasearcher maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat mampu menemukan penyebab dari masalah-masalah kesehatan yang timbul di
masyarakat. Contohnya penyebab tingginya angka DBD, malaria, dan kaki gajah.
Kita dapat berasumsi bahwa hal tersebut dikarenakan adanya air yang menggenang
dan menjadi sarang nyamuk. Sehingga jumlah nyamuk penyebar penyakit berbahaya
cenderung tinggi di daerah tersebut. Setelah kita berasumsi, kita harus mencari
tahu apa yang sebenarnya menjadi penyebab masalah tersebut. Contohnya dengan
mengunjungi langsung ke daerah tersebut, serta melakukan wawancara.
Apprenticer maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat memiliki pengalaman magang terlebih dahulu.
Communitarian maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Apalagi tugas kita
terjun langsung ke masyarakat. Kita harus mampu mempengaruhi masyarakat itu
sendiri.
Leader maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan. Yakni mampu memutuskan suatu
kebijakan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan mampu mengatur kelompok
kerja dengan baik.
Educator maksudnya adalah lulusan sarjana kesehatan
masyarakat mampu memjadi pemberi edukasi kesehatan bagi masyarakat. Misalnya
angka kematian ibu hamil di Banyumas besar, hal ini diduga karena ibu hamil
lebih memilih melahirkan lewat dukun. Padahal, dukun tidak memiliki sertifikasi
kemampuan dalam bidang tersebut. Jadi, kita harus memberi tahu bahwa ibu hamil
harus memeriksakan kehamilannya ke posyandu minimal 4x selama kehamilan. Hal
ini di harapkan agar angka kematian ibu dan bayi menurun kedepannya.
Sedangkan materi selanjutnya yaitu kompetnsi yang
dibutuhkan oleh S.KM yakni computer literacy, critical system thinking, dan
ability to serve.
Lalu hambatan-hambatan yang biasa di rasakan oleh fresh
graduate yakni no working experience, limited ability in human relation, low
proffesional company.
Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, di era ini kita
harus mampu menjadi agent of change (agen
perubahan) untuk mewujudkan Indonesia yang sehat tahun 2030 sesuai dengan
kepututusan menteri kesehatan.
Agent of change harus
mampu memmenuhi kriteria berikut, yakni knowledge-driven model, problem solving
model, interactive model, dan enlightment model.
Sekian, mohon maaf
apabila ada kesalahan.
.........................................................................................................................................
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pada
Hari Minggu, 17 September 2017 di acara Basic Training of Public Health (BTOPH)
Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) telah mengundang seorang pemateri yaitu
Bapak Raditya Pradipta.
Dalam kesempatan hari itu, Bapak Raditya Pradipta
menjelaskan beberapa hal yang sangat penting. Diantaranya yakni materi tentang
pemberdayaan masyarakat, langkah-langkah pemberdayaan masyarakat,
masalah-masalah yang menghambat dalam pemberdayaan masyarakat, tips dan trik dalam
penyuluhan kesehatan, serta seminar motivasi bagi mahasiswa baru program studi
kesehatan masyarakat UNSOED.
Materi yang pertama yakni tentang pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan sumber daya manusia atau
masyarakat itu sendiri dalam bentuk penggalian kemampuan probadi, kreatifitas,
kompetensi, dan daya pikir serta tindakan yang lebih baik dari waktu
sebelumnya.
Pemberdayaan masyarakat sangat penting dan merupakan hal
yang wajib untuk dilakukan mengingat pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang
demikiat pesatnya belakangan ini akan sangat mempengaruhi kemampuan tiap
individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu masyarakat luas
diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman dengan adanya pemberdayaan masyarakat
yang bertujuan untuk melahirkan individu-individu yang mandiri dalam
masyarakat, menciptakan masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan potensi
diri dan lingkungan di sekitarnya dengan baik, menambah kemampuan berpikir dan
bernegosiasi atau mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang
mungkin ditemui dalam linkungannya, dan menciptakan lingkungan yang memiliki
etos kerja yang baik sehingga mampu menciptakan kondisi kerja yang sehat dan
saling menguntungkan.
Tahan-tahapan yang dilakukan dalam pemberdayaan
masyarakat antara lain :
1.
PEMBERDAYAAN
Motivasi,
kepercayaan diri
2.
PENINGKATAN
KEMAPUAN
Pengetahuan,
keterampilan, perilaku
3.
PEMBERDAYAAN
Partisipasi, pemecahan
masalah
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam pemberdayan masyarakat antara lain :
1.
Persiapan
2.
Pengkajian
3.
Perencanaan
4.
Pelaksanaan
5.
Monitoring dan
evaluasi
Masalah-masalah yang sering ditemui dalam
pemberdayaan masyarakat yaitu
1.
Belum
terintegrasi
Maksudnya adalah masyarakat masih meyakini
kepercayaan-kepercayaan nenek moyangnya. Contohnya anak tiba-tiba demam tinggi,
orang-orang dahulu meyakini bahwa anak tersebut dirasuki oleh hal-hal berbau
mistis. Sehingga berobat ke dukun. Padahal, ketika berobat ke dukun, mereka
hanya diobati dengan disembur oleh air atau diberikan air bekas celupan batu.
Mereka yang berasumsi bahwa hal tersebut dapat menyembuhkan penyakit mereka
perlu dibenahi.
2.
Banyak kegiatan
charity
3.
Ego sektoral
4.
Partisipasi
pihak ketiga (sponsor)
Materi
selanjutnya yaitu cara-cara penyuluhan kesehatan. Pertama, kenali sasaran.
Contoh kasus yakni kita akan megadakan penyuluhan HIV/AIDS. Sasaran kita adalah
remaja. Kita harus mampu menarik simpati mereka agar mau memperhatikan dan
peduli akan masalah kesehatan mengenai isu HIV. Usaha-usaha yang dapat
dilakukan adalah melakukan pengecekan HIV secara gratis, memasang
pamflet-pamflet mengenai HIV dan AIDS, memberikan informasi tentang pencegahan
HIV/AIDS yang inovatif agar mereka mau memperhatikan.
Kedua,
kuasai materi. Kita sebagai agen preventif harus menguasai materi yang akan
diberikan pada saat penyuluhan. Yakni penyebab, ciri, tanda-tanda, cara
mencegah, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan isu-isu yang sesuai dengan
materi yang akan diberikan.
Ketiga, rencana kegiatan. Kita harus membuat
rancangan kegiatan dengan struktural yang jelas dan tidak membingungkan. Jangan
sampai masyarakat menolak untuk ikut dikarenakan berhalangan hadir misalnya ada
kegiatan pemilihan umum, rapat desa, dan sebaginya.
Materi selanjutnya adalah tips agar kegiatan
pemberdayaan sukses. Yaitu Interaktif, maksudnya kita harus mencuri perhatian audiens
caranya adalah memberikan tanya jawab, ice breaking, pemberian hadiah bagi
penanya, dan sebagainya. Selain itu kita dapat memodifikasi kegiatan agar
sasaran kita tidak bosan dengan acara penyuluhan/pemberdayaan. Terakhir, kita
harus memahami betul apa yang kita bicarakan di depan audiens, agar tidak ada
kesalah pahaman ketika acar berlangsung.
Sekian, mohon maaf
apabila ada kesalahan.
.................................................................................................................................................
ADVOKASI
Pada Hari Minggu, 17 September 2017 di acara Basic Training
of Public Health (BTOPH) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) telah mengundang
seorang pemateri yaitu Mas Rizki Bahari.
Dalam kesempatan hari itu, Mas Rizki Bahari menjelaskan
beberapa hal yang sangat penting. Diantaranya yakni materi advokasi, cara-cara
untuk menyampaikan keluhan dan pendapat, serta tahapan-tahapan kita untuk
ber-advokasi.
Materi
pertama yakni advokasi. Advokasi adalah bagian dari media yang sistemnya
terorganisir untuk memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan atau
berkepentingan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, advokasi bisa diartikan
sebagai pembelaan. Advokasi juga bisa diartikan sebagai bentuk upaya persuasi
yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi, serta
rekomendasi tindak lanjut mengenai suatu hal atau kejadian.
Di
samping itu, advokasi juga bisa bermakna sebagai suatu bentuk usaha untuk
memengaruhi kebijakan publik dengan berbagai macam pola komunikasi persuasif.
Advokasi juga bisa disebut sebagai aktivitas memberikan pertolongan terhadap
klien untuk mencapai layanan yang mereka telah ditolak sebelumnya dan
memberikan ekspansi terhadap layanan tersebut agar banyak orang yang terwadahi.
Istilah
advokasi memang sangat kental kaitannya dalam dunia hukum. Bagi orang-orang
yang memiliki keahlian di bidang advokasi, biasanya disebut dengan istilah
advokat.
Kira-kira
dimanakah kita sebagai mahasiswa dapat merelisasikan keinginan dan harapan
kita?
Jawabannya
adalah yang pertama tim advokasi di organisasi tingkat jurusan. Mengapa jurusan
terlebih dahulu? Karena kita harus melaporkan ke tingkat yang lebih kecil
terlebih dahulu. Ini maksudnya agar apabila masalah tersebut dapat diselesaikan
oleh pihak yang berkepentingan di jurusan, maka kita tidak perlu membawa
masalah tersebut sampai ke tingkat yang paling tinggi yakni universitas.
Apabila keinginan kita belum dapat terealisasi,kita dapat mengajukannya ke
tingkat yang lebih tinggi, yakni fakultas, kemudian apabila masih gagal, kita
bisa mengajukannya ke pihak universitas.
Sedikit
informasi, mahasiswa baru UNSOED angkatan 2017 sudah pernah melakukan advokasi
pada saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru di gedung Graha Widyatama. Pada
saat itu, mahasiswa baru serta mahasiswi baru, kompak mempertanyakan kejelasan
soal jas almamater yang belum dibagikan. Akhirnya, panitia penerimaan mahasiswa
baru mengundang pihak yang bertanggung jawab dalam pembagian jas almamater.
Beliau menjelaskan dengan sangat jelas dan detail, sehingga mahasiswa paham
mengenai akar dari masalah tersebut.
Itu
baru sedikit contoh kegiatan advokasi. Kita memiliki hak dan kewajiban yang
dapat di penuhi. Sehingga kita tidak perlu ragu maupun takut untuk menyatakan
pendapat, selagi itu masih logis dan bertujuan baik.
Sedikit
tambahan, panitia BTOPH menyelenggarakan simulasi advokasi yang diikuti oleh
seluruh mahasiswa jurusan kesehatan masyarakat. Tim advokasi dibagi menjadi 4
yakni orator, tim kreatif, koordinator lapangan, dan perwakilan yang menghadap
langsung ke pihak yang berkepentingan terhadap masalah yang ingin diselesaikan.
Sebelumnya,
tahapan advokasi dibagi menjadi empat. Yaitu kajian, lobby, audiensi, dan aksi.
Kajian maksudnya adalah menelaah masalah-masalah yang ingin diselesaikan.
Kajian dapat dilakukan secara musyawarah di lingkungan sekitar. Lobby maksudnya
adalah seorang perwakilah menyampaikan pendapat ke pihak yang berkepentingan.
Audiensi maksudnya adalah seorang perwakilan menyampaikan pendapat ke pihak
yang berkepentingan, namun turut membawa masa. Aksi contohnya adalah long march
di jalanan.
Perlu
diketahui, aksi dan demonstrasi itu berbeda. Aksi itu dapat direalisasikan
dengan cosplay, pertunjukkan, dan hal-hal lain lain yang tidak menimbulkan
kerusuhan. Sedangkan demonstrasi itu kegiatan yang dilakukan cenderung anarkis
dan menimbulkan kerusuhan.
Sekian,
mohon maaf apabila ada kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar